8 Mitos Asuransi (No 7 Paling Sering)

Home8 Mitos Asuransi (No 7 Paling Sering)

MITOS 1

“Saya masih muda , tidak butuh asuransi”

FAKTA

Seseorang yang sehat memang tidak butuh asuransi. yang membutuhkan asuransi adalah orang-orang yang terbaring di rumah sakit, dan keluarga yang kehilangan pencari nafkah.

Sayangnya, asuransi tidak bisa dibeli saat sudah sakit atau tutup usia. Asuransi hanya bisa dimiliki oleh orang yang sehat dan produktif.

Jadi, jika saat ini Anda masih muda, sehat, dan produktif, selamat! Artinya belum terlambat mempersiapkan proteksi keuangan Anda.

MITOS 2

“Saya tidak pernah sakit, jadi tidak perlu asuransi”

FAKTA

Menurut Tempo, 9 dari 10 orang indonesia. meninggal karena sakit. 6 diantaranya akibat sakit kritis. Berarti, ada peluang 90% untuk kita mengalami penyakit.

Bukankah lebih baik kita merencanakan untuk menghindari atau mengalihkan resiko keuangan, daripada berjudi pada peluang 10 % jika kita tidak sakit?

MITOS 3

“Asuransi kesehatan dari kantor sudah cukup”

FAKTA

Asuransi Kantor=cukup, jika memenuhi kriteria ini:

  1. Limit harus cukup besar untuk cover biaya sakit kritis sampai usia tua nanti.
  2. Resiko sakit kritis rentan terjadi saat usia pensiun. Pastikan asuransi kantor tetap dapat dipakai, walaupun sudah pensiun dan tidak bekerja di sana.
  3. Cek aturan kantor. Jika seorang karyawan sakit kritis, dan tidak bisa bekerja selama 1 tahun, apakah tetap akan dipertahankan?

Jika tidak memenuhi salah satu kriteria ini, segera siapkan backup asuransi kesehatan pribadi!

MITOS 3

“Klaim asuransi kesehatan itu susah dan ribet!”

FAKTA

Klaim asuransi kesehatan Prudential, saat ini sangat mudah karena bersifat cashless. Anda cukup menunjukkan kartu asuransi, dan langsung akan mendapatkan pelayanan rumah sakit.

Anda juga dapat memantau proses klaim secara online melalui aplikasi PULSE by Prudential.

Pastikan Anda memahami apa saja yang dicover dan apa saja yang tidak dicover (pengecualian) sebelum mengajukan klaim.

MITOS 5

“Sudah ada BPJS, tidak perlu asuransi lagi”

FAKTA

Jika sudah nyaman dengan fasilitas dan limit BPJS Kesehatan. maka Asuransi Kesehatan memang bukan prioritas.

Namun ketika sakit serius, ada biaya-biaya tersembunyi, yang muncul. contohnya, penghasilan yang hilang karena tak bisa bekerja, biaya hidup, biaya pendidikan anak, biaya berobat di luar limit, biaya vitamin, alat kesehatan, dst.

Semua ini tidak dicover oleh Asuransi Kesehatan maupun BPJS, melainkan Asuransi Kondisi Kritis.

MITOS 6

“Asuransi Unitlink itu jelek!”

FAKTA

Di asuransi unitlink ada porsi asuransi & porsi nilai tunai cadangan. Banyak orang berpikit bahwa asuransi = inventasi, karena iming-iming agen. Sehingga ketika nilai tunai tidak sesuai janji agen, nasabah merasa dirugikan. Padahal berinvestasi di asuransi memang bukan pilihan yang tepat.

Nilai tunai cadangan unitlink punya 3 kegunaan:

  1. Cuti premi, saat ada kesulitan ekonomi atau terlambat membanyar premi.
  2. Mengapa premi tetap flat
  3. Mengatur masa bayar

MITOS 7

“Kontrak asuransi unitlink adalah 10 tahun”

FAKTA

Banyak yang berpikir bahwa kontrak asuransi unitlink adalah 10 tahun. Setelah 10 tahun, uang bisa ditarik 100% dan asuransi tetap berjalan.

10 tahun adalah dimana nilai tunai mencapai angka optimal, BUKAN berakhirnya kontrak asuransi. Nilai tunai digunakan untuk membayar biaya asuransi di tahun ke 11,12, dan seterusnya.

Jadi, kalau stop bayar di tahun ke-10, dan menarik semua nilai tunai, otomatis asuransi akan tutup.

MITOS 8

“Harga premi asuransi mahal”

FAKTA

Prmi asuransi bisa disesuaikan dengan budget dan kebutuhan. Bahkan, saat ini ada asuransi jiwa yang prminya mulai RP 100.000/bulan saja!

Jika ada budget lebih, Anda dapat pelan-pelan menambah manfaat asuransi di kemudian hari.

Anda hanya perlu konsultasi dengan insurance advisor yang tepat, untuk menemukan asuransi yang paling cocok dan tidak menggangu keuangan Anda.